Berita

Polemik Candaan Budaya Toraja Berakhir, Pandji Pragiwaksono Terima Sanksi Adat

Advertisement

Komika Pandji Pragiwaksono telah menyelesaikan polemik terkait candaannya mengenai budaya Toraja. Ia menjalani peradilan adat dan menerima sanksi berupa denda satu ekor babi dan lima ekor ayam sebagai bentuk permohonan maaf kepada leluhur. Sidang adat ini berlangsung di Tongkonan Kaero Sangalla, Tana Toraja, pada Selasa (10/2/2026).

Sanksi Adat Sebagai Permohonan Maaf

Hakim adat Toraja, Sam Barumbun, menjelaskan bahwa sanksi denda adat ini merupakan tradisi masyarakat Toraja sebagai permohonan maaf kepada leluhur. “Jadi sebagai permohonan maaf kepada leluhur kami, (sanksi denda Pandji) 1 ekor babi, 5 ekor ayam,” ujar Sam di hadapan Pandji dan masyarakat Toraja.

Menurut Sam, candaan Pandji tidak hanya melukai harkat dan martabat suku Toraja, tetapi juga leluhur. Video yang dipermasalahkan, meskipun pertama kali direkam pada 2013, kembali viral pada 2021. “Saudara Pandji dalam materi stand up komedi yang pertama kali dilakukan pada tahun 2013, dan setelah itu dihapus. Kemudian 2021 itu dibuka kembali dan menjadi viral. Ini melukai dan menyakiti hati kami semua,” tegasnya.

Sam juga menekankan pentingnya kematian dalam kehidupan masyarakat Toraja. Kematian dianggap sebagai momentum untuk mengembalikan pemberian Sang Pencipta. “Saudara Pandji, mati di Toraja menjadi adalah bagian terpenting dari kehidupan kami. Sehingga mati di Toraja menjadi sangat mahal. Karena di situlah kami mengembalikan sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan sang pencipta kami kepada Tuhan kembali,” ucap Sam.

Masyarakat Toraja berupaya mengembalikan pemberian Tuhan sebaik mungkin, yang menjadikan kematian di Toraja sebagai momen yang sangat berharga. “Sehingga kami berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikan pemberian yang terbaik dari sang pencipta itu. Jadi sekali lagi, kenapa mati di Toraja itu mahal karena mengembalikan seseorang ke keabadiannya itu adalah hal terpenting dalam kehidupan kita,” terangnya.

Pandji Pragiwaksono menjalani ritual adat di Toraja.
Pandji Pragiwaksono menjalani ritual adat di Toraja, sebagai permohonan maaf dan tanggung jawab pemulihan. (Foto: dok. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN))

Pandji Menerima Sanksi dan Berjanji

Di hadapan masyarakat dan tokoh adat Toraja, Pandji Pragiwaksono menyampaikan permohonan maaf dan mengakui kesalahannya karena membawakan materi ritual adat Rambu Solo tanpa pemahaman yang utuh. “Terima kasih banyak, pada kesempatan kali ini, di hari ini, saya menerima semua keputusan yang telah diberikan,” ujar Pandji pada Selasa (10/2/2026).

Pandji berjanji untuk menjadi lebih baik dan tidak akan mengulangi perbuatannya. “Semoga ini menjadi kesempatan untuk lebih baik dari saya. Dan saya berjanji seperti tadi diminta, bahwa ini adalah untuk terakhir kalinya saya melakukan sesuatu yang serupa dan tidak mengulangi lagi di masa depan,” ucapnya.

Ritual Permohonan Maaf dan Pemulihan

Peradilan adat untuk Pandji berlangsung di Tongkonan Kaero Sangalla, Tana Toraja, pada Selasa (10/2/2026). Pandji hadir mengenakan kemeja biru muda dan celana abu-abu.

Halim adat Toraja, Yusuf, menuturkan bahwa Pandji diberi sanksi ringan karena pelanggaran yang tidak disengaja dan telah meminta maaf. Sanksi berupa satu ekor babi dan lima ekor ayam akan digunakan untuk ritual permohonan maaf kepada leluhur di wilayah Pa’buaran Tongkonan Kaero, Sangalla’. “Kita tidak berikan sanksi berat karena dia tidak sengaja dan sudah minta maaf. Sanksinya hanya satu ekor babi dan lima ayam. Babi dan satu ayam besok mau dipakai untuk ritual permohonan maaf kepada leluhur. Tadi sudah empat ekor ayam,” ujarnya.

Advertisement

Ritual adat ma’bua’ ini tidak hanya sebagai pemulihan martabat suku Toraja, tetapi juga sebagai janji kepada leluhur. Pelaku yang melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari akan dijauhkan dari berkat. “Ritual besok tidak di tongkonan lagi tapi di Pa’buaran Tongkonan Kaero. Ritual yang kita lakukan singkatnya adalah pemulihan harmonisasi dan janji kepada leluhur. Kalau masih melakukan kesalahan yang sama, orang itu akan dijauhkan dari berkat,” jelas Yusuf.

Pada Rabu (11/2/2026), Pandji menjalani ritual adat Ma’sarrin dan Kadang Tua’ atau permohonan maaf kepada leluhur Toraja di wilayah Tongkonan Kaero Sangalla’, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Hewan yang disembelih sebagai persembahan kemudian dimasak tanpa bumbu dan disantap bersama oleh Pandji, tokoh adat, dan masyarakat.

Pandji Pragiwaksono menjalani ritual adat permohonan maaf.
Pandji Pragiwaksono menjalani ritual adat permohonan maaf kepada leluhur Toraja. (Foto: Ricdwan Abbas Bandaso/detikSulsel)

Pembelajaran Berharga dan Penilaian Adil

Pandji mengaku baru kali pertama menjalani sanksi adat dan menganggapnya sebagai pembelajaran berharga. “Ini benar-benar pelajaran berharga bagi saya, banyak hal-hal baru yang saya dapatkan, keindahan alam, aneka adat budaya dan keramahan masyarakat. Dan memang, kalau mau tahu Toraja ya harus datang langsung ke Toraja,” ujarnya kepada wartawan usai ritual.

Ia juga melihat kejadian ini sebagai berkah karena tanpa polemik ini, ia mungkin tidak akan bertemu dengan tokoh adat dan perwakilan dari 32 wilayah adat. “Saya anggap ini semacam mungkin jadi ada berkahnya ya, bahwa tanpa kejadian ini mungkin saya tidak akan bertemu tokoh adat dan perwakilan dari 32 wilayah adat,” lanjutnya.

Pandji merasa tidak mengalami kesulitan selama dua hari menjalani sidang adat. Denda adat yang diberikan tidak memberatkan baginya. “Saya tidak menemukan kesulitan apa-apa, semuanya dipermudah, lancar, diperingkas. Menurut saya prosesnya sangat menyenangkan dan sangat nikmat,” tuturnya.

Saksi Adat Dinilai Adil dan Demokratis

Pandji Pragiwaksono menilai sanksi adat yang dijatuhkan kepadanya adil dan demokratis. “Saya melihat langsung seperti apa adat dan tradisi Toraja, yang begitu bisa saya katakan adil dan demokratis dalam penyelesaian permasalahannya,” kata Pandji di hadapan tokoh adat dan masyarakat Toraja pada Selasa (10/2/2026).

Ia merasa tersanjung dengan kehadiran perwakilan adat dari berbagai wilayah. “Saya juga merasa tersanjung dengan kebersamaan dengan begitu banyak perwakilan dari wilayah adat. Saya bisa asumsikan ini bukan sesuatu yang mudah bahwa kita bisa berkumpul saat ini adalah sesuatu yang luar biasa,” bebernya.

Pandji mengaku telah mendengarkan pernyataan dari perwakilan adat dan berharap dapat diterima untuk kembali berkunjung ke Toraja. “Saya tadi sudah mengikuti dan mendengar pernyataan dari perwakilan adat saya terima dan saya mengerti saya rasa ini akan membantu saya menjadi lebih baik lagi,” katanya. “Dan semoga saya masih diterima untuk kembali lagi karena saya betul-betul sangat menikmati momen berada di sini bersama dengan keluarga di Toraja,” lanjutnya.

Advertisement