Setiap tahun pada tanggal 11 Februari, dunia memperingati Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains. Peringatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa perempuan dan anak perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mewujudkan ambisi mereka di bidang sains.
Latar Belakang Kesenjangan Gender di Bidang Sains
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kesenjangan gender yang signifikan telah lama terjadi di berbagai disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) di seluruh dunia. Meskipun partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi terus meningkat, mereka masih kurang terwakili di bidang-bidang krusial ini.
Kesetaraan gender merupakan isu fundamental bagi PBB. Pemberdayaan perempuan dan anak perempuan tidak hanya berkontribusi pada pembangunan ekonomi global, tetapi juga menjadi kunci kemajuan dalam mencapai tujuan dan target Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.
Pada Maret 2011, Komisi tentang Status Perempuan mengadopsi laporan yang menekankan pentingnya akses dan partisipasi perempuan dalam pendidikan, pelatihan, sains, dan teknologi. Hal ini juga bertujuan untuk mempromosikan kesetaraan akses bagi perempuan terhadap pekerjaan yang layak.
Selanjutnya, pada Desember 2013, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi untuk pembangunan. Resolusi ini mengakui bahwa akses dan partisipasi penuh serta setara bagi perempuan dan anak perempuan dari segala usia dalam bidang ini sangat penting untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan mereka.
Tema Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains 2026
Tema Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains (IDWGIS) tahun 2026 adalah “Synergizing AI, Social Science, STEM and Finance: Building Inclusive Futures for Women and Girls.”
Di tengah meningkatnya kesenjangan sosial, integrasi kecerdasan buatan (AI), ilmu sosial, STEM, dan keuangan menjadi pendekatan strategis untuk mempercepat pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. AI menawarkan potensi besar dalam analisis data, diagnostik kesehatan, dan pemodelan iklim. Namun, tanpa intervensi yang tepat, manfaatnya berisiko tidak dinikmati oleh perempuan dan anak perempuan.
Ilmu sosial berperan penting dalam merancang kebijakan yang adil, melibatkan masyarakat, dan mendorong perubahan perilaku, memastikan inovasi STEM dan AI dapat menjangkau kelompok yang terpinggirkan. Sementara itu, disiplin STEM membekali individu dengan keterampilan teknis yang diperlukan untuk mengembangkan dan memelihara solusi AI, sekaligus mendorong tim riset yang seimbang gender.
Sinergi antara keempat domain ini diharapkan dapat mengatasi hambatan yang ada, menutup kesenjangan keterampilan digital, mendukung perusahaan rintisan yang dipimpin perempuan, dan memajukan tata kelola AI yang responsif gender.
Melanjutkan seruan aksi UNESCO 2024 “Menutup Kesenjangan Gender dalam Sains” dan kampanye 2025 “Bayangkan dunia dengan lebih banyak perempuan dalam sains #EveryVoiceInScience”, peringatan tahun 2026 ini berfokus pada praktik baik dan solusi nyata untuk membangun ekosistem STEM yang lebih inklusif.






