Kementerian Kebudayaan menggelar acara silaturahmi pegawai untuk menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Mengusung tema ‘Keindahan Toleransi Ibadah di Nusantara’, kegiatan ini bertujuan mempererat kebersamaan dan memperkuat semangat kerja menjelang bulan puasa.
Makna Ramadan: Spiritual dan Budaya
Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara munggahan ini. “Alhamdulillah, menjelang bulan suci Ramadan ini kita dapat berkumpul dalam acara munggahan sebagai wujud rasa syukur, sekaligus ikhtiar membersihkan hati, mempererat silaturahmi, dan memperkuat kebersamaan sebagai satu keluarga besar Kementerian Kebudayaan,” kata Bambang dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026).
Bambang menekankan bahwa momentum ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan pengingat bagi seluruh pegawai untuk memasuki Ramadan dengan tetap menjaga profesionalisme, integritas, dan semangat kerja. Ia berharap kebersamaan tersebut dapat menguatkan sinergi serta menghadirkan keberkahan dalam pelaksanaan tugas-tugas pemajuan kebudayaan.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menambahkan bahwa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual, tetapi juga sebagai peristiwa budaya yang hidup di masyarakat Indonesia. Ia mencontohkan tradisi berbuka puasa atau iftar yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia oleh UNESCO dari beberapa negara Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah berupaya agar tradisi iftar juga dapat menjadi bagian dari daftar ekstensi yang diajukan Indonesia. “Iftar atau berbuka puasa merupakan peristiwa budaya dengan ragam tradisi yang sangat khas di berbagai daerah. Setiap wilayah memiliki cara dan kekhasan tersendiri yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara,” ungkap Fadli Zon.
Fadli Zon juga menyoroti keberagaman kuliner Ramadan, mulai dari takjil hingga hidangan khas berbuka, sebagai ekspresi budaya yang merefleksikan identitas dan kreativitas masyarakat. Ia menilai tradisi tersebut menunjukkan perpaduan nilai spiritual dan budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Ramadan sebagai Momentum Penyucian Diri dan Silaturahmi
Lebih lanjut, Fadli Zon menyampaikan bahwa Ramadan merupakan momentum resetting kehidupan. Umat Islam menjalankan ibadah puasa selama 30 hari sebagai proses penyucian diri, disertai kewajiban zakat, dan ditutup dengan saling memaafkan.
Fadli mengajak seluruh jajaran untuk menjadikan Ramadan sebagai ruang memperkuat silaturahmi serta merayakan kekayaan budaya yang tumbuh dalam tradisi Ramadan di berbagai daerah Indonesia. “Atas nama pribadi dan pimpinan, saya mengucapkan selamat menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Semoga ibadah kita diberikan kemudahan, kesehatan, dan keberkahan,” tutupnya.
Acara silaturahmi ini dihadiri oleh jajaran Kementerian Kebudayaan, termasuk Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Inspektur Jenderal Fryda Lucyana, serta para Direktur Jenderal dan pejabat eselon lainnya. Kegiatan ditutup dengan tausiyah oleh Ustaz Ricky Kurniawan, Lc., mengenai bulan Ramadan.
Kegiatan ini menjadi wujud komitmen Kementerian Kebudayaan dalam merawat nilai toleransi, memperkuat kebersamaan, serta meneguhkan peran budaya sebagai perekat persatuan bangsa, khususnya dalam menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.






