Berita

Tragedi Siswa SD NTT Gantung Diri, Komisi X DPR Desak Koreksi Sistem Pendidikan dan Perlindungan Sosial

Advertisement

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyoroti kasus tragis seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) yang ditemukan tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa ini, menurutnya, menjadi alarm keras bagi negara untuk segera mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan serta perlindungan sosial yang ada.

Alarm Keras untuk Negara

Hetifah menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. “Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat. Peristiwa yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun,” kata Hetifah kepada wartawan pada Rabu (4/2/2026).

Ia menekankan bahwa anak berusia 10 tahun seharusnya mendapatkan perlindungan dan dukungan, bukan sampai merasa putus asa, terutama terkait fasilitas kebutuhan pendidikan. Legislator dari Fraksi Golkar ini menilai bahwa sistem pendidikan hingga perlindungan sosial di Indonesia perlu dikoreksi secara mendasar.

Koreksi Sistem Pendidikan dan Perlindungan Sosial

“Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena. Kasus ini menunjukkan, bahwa sangat penting bagi kita, untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar,” ujar Hetifah.

Ia berpendapat bahwa pendidikan dasar harus benar-benar gratis dan inklusif bagi seluruh anak di Indonesia, tanpa membebani keluarga miskin. Perlindungan sosial juga harus tepat sasaran bagi keluarga yang rentan.

“Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin. Ke depan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis, termasuk perlengkapan belajar,” tegas Hetifah.

Selain itu, kepedulian sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat perlu dibangun secara kuat. “Kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan,” tambahnya.

Advertisement

Surat Peninggalan Korban

Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi jasad YBR (10), siswa kelas IV SD yang tewas gantung diri. Surat tersebut ditulis korban menggunakan bahasa daerah Bajawa dan ditujukan kepada ibunya.

Dalam surat itu, YBR mengungkapkan kekecewaan terhadap ibunya yang disebutnya pelit, serta berisi ungkapan perpisahan. Berikut isi surat tersebut:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan surat itu ditulis oleh korban. Ia menyatakan bahwa penyebab kekecewaan YBR terhadap ibunya masih dalam pendalaman. Beredar kabar bahwa korban kecewa karena tidak dibelikan buku tulis oleh ibunya, namun hal ini belum dapat dikonfirmasi.

“Masih pendalaman,” ujar Benediktus.

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Advertisement