Presiden Prabowo Subianto menyoroti pentingnya menjaga dan menghargai sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia prihatin melihat peninggalan sejarah, termasuk situs-situs bersejarah, kerap tidak terawat bahkan dibongkar untuk kepentingan lain.
Sejarah Penjajahan Sebagai Pelajaran
Prabowo menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada Senin (02/02/2026). Ia menekankan bahwa sejarah penjajahan yang dialami Indonesia harus menjadi pelajaran berharga.
“Karena sejarah kita, karena kita pernah dijajah, karena kita pernah mengalami pemerintahan penjajahan yang impresialis dan rasialis, bahwa kita, rakyat kita, pribumi kita pernah dianggap lebih rendah daripada anjing,” ujar Prabowo.
Meskipun generasi muda saat ini tidak merasakan langsung pahitnya penjajahan, Prabowo mengingatkan pentingnya menghargai warisan sejarah.
Keresahan Terhadap Pembongkaran Situs Bersejarah
Prabowo mengungkapkan kekecewaannya saat melihat sebuah prasasti tahun 1978 yang masih ada dua puluh tiga tahun setelah kemerdekaan, namun kini mungkin telah dibongkar. Ia mempertanyakan perawatan terhadap lokasi atau situs bersejarah yang tidak terurus.
“Kadang-kadang kita tidak menghargai sejarah kita. Situs-situs sejarah dibongkar, ini para kepala daerah harus memikirkan. Saya mau tanya, di mana stasiun RRI yang digunakan Bung Tomo pada pertempuran 10 November? Apakah masih ada? Di mana situs-situs Majapahit? Saya dengar ada beberapa sudah menjadi pabrik,” tuturnya.
Kontribusi Para Pendahulu
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan bahwa keberadaan Indonesia saat ini adalah berkat jasa dan perjuangan para pahlawan serta seluruh elemen bangsa.
“Presiden dengan pemerintahan, dengan para gubernur, para bupati yang terdahulu, terdahulu. Semuanya telah menyumbang, semuanya telah berkontribusi terhadap kehadiran kita hari ini,” jelasnya.
Menjaga Persatuan dan Kesatuan
Prabowo juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Ia berpendapat bahwa pihak yang melupakan sejarah berisiko terjerumus kembali dalam kesalahan masa lalu.
“Ini saya tidak mengatakan ini sebagai sesuatu kata-kata indah. Karena itu, saya selalu mengajak, apa pun perbedaan kita, karena kita pasti berbeda, kita berbeda suku, kita berbeda ras, kita berbeda agama, kita berbeda aliran pemikiran politik. Tapi kita adalah satu keluarga besar, Indonesia,” pungkasnya.






