Menteri Komunikasi dan Digital (Menkominfo), Meutya Hafid, menyatakan bahwa Indonesia seharusnya tidak lagi bersikap pasif dalam upaya perdamaian di Palestina. Langkah Indonesia bergabung dalam forum Board of Peace (BoP) dipandang sebagai sebuah kemajuan signifikan.
Langkah Baru Indonesia di Kancah Internasional
“Melihat hasil dari pertemuan pertama BoP yang kemarin diselenggarakan di Amerika. It’s a big step dan sudah saatnya,” ujar Meutya dalam program Blak-blakan detikcom, Senin (23/2/2026).
Meutya menekankan bahwa sebagai negara menengah, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk berperan aktif di panggung global, terutama dalam mendukung kemerdekaan Palestina.
“Di saat yang bersamaan ketika kita menjadi negara yang lebih middle gitu ya, ya kita juga nggak bisa hanya jadi penonton, dan untuk Palestina memang kita nggak mau hanya jadi penonton. Jadi kita harus masuk dan dialah ada forum yang tepat, yaitu BoP, yang sebelumnya nggak ada,” jelasnya.
BoP: Jalur Resmi di Luar PBB
Menurut Meutya, BoP adalah forum yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menyediakan jalur resmi di luar kerangka PBB untuk membantu rekonstruksi Palestina. Hal ini penting mengingat PBB belum memiliki forum khusus untuk tujuan tersebut.
“Kita juga melihat bahwa secara tradisi memang ada perdamaian-perdamaian dunia, termasuk di Indonesia ketika kita Konferensi Meja Bundar misalnya, yang memang ditengahi atau dilakukan di forum yang berbeda di luar PBB tapi diakui PBB,” kata Meutya.
Ia menambahkan, “Jadi BoP ini kan juga sudah acknowledge by PBB gitu ya. Jadi bukan terpisah, bertentangan, nggak juga. Cuman memang ada jalur lain di luar PBB, dan saya rasa selama di situ ada celah harapan, Indonesia wajib untuk mencoba, dan langkah Pak Presiden berani.”
Pertimbangan Presiden Prabowo
Meutya mengungkapkan pertimbangan Presiden Prabowo Subianto dalam mengambil keputusan ini. Presiden Prabowo disebut tidak keberatan jika langkah tersebut tidak populer, demi upaya kemerdekaan Palestina.
“Beliau sempat mengatakan bahasnya begini, ‘Kalau ini tidak populis saya tidak apa-apa. Saya rasa ini yang benar dan kita harus mencoba, memberikan, berusaha sekuatnya untuk kemerdekaan Palestina’,” tutur Meutya menirukan ucapan Presiden.
Pendekatan Realistis untuk Palestina
Bergabung dengan BoP dinilai sebagai pendekatan paling realistis untuk membantu Palestina. Meutya berpendapat bahwa melanjutkan cara-cara lama yang telah dilakukan selama satu dekade terakhir tidak menunjukkan hasil yang signifikan.
“Kalau kita melakukan pendekatan terhadap Palestina dengan cara-cara yang sama selama 10 tahun terakhir yang kita lihat itu not working, tidak berhasil, tidak membawa kita lebih dekat kepada kemerdekaan Palestina toh buktinya sampai sekarang. Kenapa tidak kita lakukan hal-hal lainnya seperti ini?” ungkapnya.
Ia menegaskan, “Jadi ini saya rasa ya itu Indonesia wajib sekali lagi ketika ada celah untuk berusaha lebih atau berbeda, dengan yang sudah kita lakukan sebelumnya dengan harapan output-nya berbeda.”
Risiko dan Opsi Keluar
Meutya mengakui bahwa setiap keputusan strategis pasti memiliki risiko. Presiden Prabowo Subianto pun menyadari potensi risiko tersebut.
“Tapi selama kita bisa mencoba, selama apa ada harapan, mari kita lakukan. Beliau (Prabowo) selalu juga mengatakan bahwa jika memang ini melanggar, tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kita sebagai negara Indonesia yang menjunjung kemerdekaan Palestina, ya beliau akan keluar. Indonesia akan keluar. Jadi opsi itu tetap selalu terbuka,” pungkasnya.




