Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW), mendorong perguruan tinggi Islam di Indonesia untuk memaksimalkan potensinya dalam mencetak cendekiawan yang tidak hanya religius dan cinta bangsa, tetapi juga memiliki wawasan global. Hal ini penting agar lulusan perguruan tinggi Islam dapat berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB.
Potensi Pendidikan Tinggi Islam
HNW menyatakan bahwa ruang bagi pendidikan tinggi Islam untuk mempersiapkan generasi milenial dan Gen Z yang cendekia, unggul, modern, dan berwawasan global sangat terbuka. Ia menekankan pentingnya lulusan tetap berlandaskan pada prinsip ajaran Islam, cinta bangsa dan negara, serta tidak tercerabut dari budaya nasional dan religius.
“Pendidikan tinggi Islam harusnya tidak memubadzirkannya bahkan harus memaksimalkan potensi dan peluang yang dimilikinya,” kata Hidayat Nur Wahid dalam keterangan tertulis, Senin (19/01/2026).
Pernyataan ini disampaikan HNW saat memberikan kuliah umum bertema ‘Pendidikan Tinggi Islam dan Kenegaraan Berbasis SDGs: Membangun Cendekia yang Unggul, Modern, dan Berwawasan Global’ di Institut Asy-Syukriyyah, Tangerang, pada Kamis (15/01/2025). Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan yayasan, rektorat, dekan, kaprodi, serta ratusan mahasiswa.
Landasan Konstitusional dan Anggaran Pendidikan
Dalam konteks keindonesiaan, HNW mengaitkan peran perguruan tinggi Islam dengan landasan konstitusional UUD 1945. Pasal 31 ayat 3, 4, dan 5 menjadi rujukan penting. Pasal 31 ayat 3 menegaskan upaya pemerintah dalam meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia melalui sistem pendidikan nasional. Sementara itu, Pasal 31 ayat 4 mengamanatkan pemerintah untuk menyiapkan sekurang-kurangnya 20% dari APBN/APBD untuk pendidikan, dengan anggaran tahun 2026 mencapai Rp 754 triliun.
Pasal 31 ayat 5 menekankan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus tetap menjunjung tinggi agama dan persatuan nasional.
Jumlah Perguruan Tinggi Islam di Indonesia
HNW menyoroti jumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia yang signifikan. Dari total 2.970 perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, terdapat 907 perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama. Angka ini menunjukkan perkembangan luar biasa dalam sektor pendidikan tinggi Islam.
“Indonesia sering disebut sebagai negara yang jumlah umat Islamnya terbesar di dunia dari sisi jumlah penduduknya, tapi sesungguhnya juga terbesar dari sisi jumlah masjid, pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam,” ujarnya.
Kontribusi pada SDGs dan Spirit ‘Iqra’
HNW menegaskan bahwa pendidikan tinggi Islam harus berkontribusi pada 17 target SDGs, termasuk akses pendidikan berkualitas dan kolaborasi global, dengan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam dan keindonesiaan. Ia mengutip laporan PBB yang menyebut Indonesia sebagai salah satu negara paling progresif dalam merealisasikan target SDGs, dengan capaian 62,5%, di atas rata-rata negara anggota PBB lainnya.
Mengacu pada sejarah kebangkitan Islam, HNW mengingatkan bahwa wahyu pertama adalah perintah membaca (‘Iqra bismi Rabbika’), yang menunjukkan pendidikan sebagai asas dasar kebangkitan umat. Ia berharap jejak sejarah cendekiawan muslim seperti Al-Khawarizmy dan Ibnu Sina dapat menjadi spirit bagi perguruan tinggi Islam saat ini.
Pentingnya Bahasa Asing dan Kolaborasi Global
Untuk mewujudkan cendekiawan muslim unggulan kelas dunia, HNW menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing seperti Inggris dan Arab. Ia juga mengapresiasi kebijakan ‘Kampus Berdampak’ dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi yang mendorong perguruan tinggi untuk memberikan dampak positif dan berkualitas.
“Kondisi seperti ini patut disyukuri, sebagaimana nama Institut Asy-Syukriyyah, dengan semakin memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk dapat berkontribusi mempersiapkan cendekiawan muda yang unggul, modern, dan berwawasan global, cinta umat, bangsa dan negara,” tutupnya.






