Liga Primer Inggris musim 2025-2026 diwarnai dengan badai cedera yang menghantam sejumlah klub papan atas. Berdasarkan analisis data dari Premier Injuries, Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Chelsea menempati posisi teratas sebagai tim yang paling banyak kehilangan pemain akibat cedera.
Analisis Mendalam Premier Injuries
Premier Injuries melakukan penilaian dengan menggabungkan dua faktor krusial: jumlah hari yang hilang karena cedera oleh suatu tim dan total cedera yang menyebabkan pemain absen setidaknya dalam satu pertandingan liga. Kombinasi kedua metrik ini menempatkan ketiga klub London tersebut di puncak daftar.
Arsenal, Tottenham, dan Chelsea tercatat mengalami 19 jenis cedera berbeda. Tottenham Hotspur menjadi tim yang paling merana, dengan total absen pemain mencapai 640 hari. Angka ini mencerminkan dampak signifikan cedera terhadap performa tim.
Dominasi Klub Papan Atas dalam Statistik Cedera
Klub-klub papan atas lainnya juga tidak luput dari masalah cedera. Manchester City menyusul dengan 16 jenis cedera, diikuti oleh Liverpool dengan 15 jenis cedera, dan Manchester United dengan 14 jenis cedera. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas kompetisi Liga Inggris memberikan tekanan besar pada kebugaran para pemain.
Cedera Hamstring dan Dampaknya
Jenis cedera yang paling sering dilaporkan adalah cedera hamstring. Meskipun persentasenya mengalami penurunan sebesar 23 persen dibandingkan musim sebelumnya, lebih dari separuh pemain yang mengalami cedera ini harus menepi minimal selama sebulan. Hal ini mengindikasikan bahwa cedera hamstring masih menjadi ancaman serius bagi para pesepak bola.
“Ini adalah liga yang dianggap paling intens dan dinamis. Itu tercermin dalam analisis statistik lari cepat dan lari intensitas tinggi, tetapi juga waktu pemulihan yang semakin singkat,” ujar Ben Dinnery dari Premier Injuries.
Dinnery menambahkan bahwa kalender kompetisi yang padat menjadi faktor utama yang membuat para pemain rentan mengalami cedera. “Ditambah dengan kalender kompetisi yang padat, sehingga para pemain tak terhindarkan kena cedera. Fisik mereka tidak mampu menoleransi tuntutan tersebut,” katanya.
“Yang ingin diketahui semua orang sekarang adalah ‘kapan seorang pemain akan kembali?’ Dan kami melihat para pemain bergegas untuk kembali, tapi kemudian selalu muncul cedera kambuhan,” tutupnya.
Situasi ini menyoroti pentingnya manajemen kebugaran pemain dan strategi pencegahan cedera yang lebih baik di tengah tuntutan kompetisi Liga Inggris yang semakin tinggi.






