Masa kepelatihan Xabi Alonso di Real Madrid berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Keputusan pemecatan diambil manajemen klub pada Senin (12/1/2026) malam WIB, kurang dari 24 jam setelah kekalahan 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol 2026. Kekalahan tersebut menjadi puncak kekecewaan manajemen terhadap performa tim di bawah arahan Alonso.
Kinerja Menurun dan Perseteruan Internal
Performa Real Madrid menunjukkan tren penurunan sejak November 2025. Dari 14 pertandingan terakhir, tim hanya mampu meraih 7 kemenangan. Akibatnya, Madrid harus merelakan puncak klasemen LaLiga kepada Barcelona. Selain masalah performa, perseteruan antara Alonso dengan sebagian besar pemain Madrid juga disebut-sebut menjadi faktor utama hilangnya kendali ruang ganti.
Alonso, yang sebelumnya digadang-gadang akan mengembalikan kejayaan Madrid, dinilai gagal total. Padahal, ia datang dengan rekam jejak mentereng dari Bayer Leverkusen. Meskipun demikian, Alonso tidak menunjukkan rasa dendam kepada pemain maupun manajemen klub.
Ucapan Perpisahan Penuh Penghargaan
Dalam surat perpisahan yang diunggah di akun Instagramnya, Alonso menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan sejak Mei 2025. Ia mengakui bahwa fase profesionalnya di Madrid tidak berakhir sesuai harapan.
“Melatih Real Madrid merupakan kehormatan dan tanggung jawab besar. Aku berterima kasih kepada klub, para pemain, dan terutama untuk semua fans Madrid atas dukungan serta kepercayaan mereka. Aku pergi dengan rasa bangga, respek, dan puas karena sudah melakukan yang terbaik.”
Selama tujuh bulan menukangi Los Blancos, Xabi Alonso mencatatkan 24 kemenangan, 4 hasil imbang, dan 6 kekalahan.
(Video terkait: Lyon Pinjam Endrick dari Real Madrid Sampai Akhir Musim)






