Chelsea kini berada di bawah komando manajer baru, Liam Rosenior. Kedatangan Rosenior dari Strasbourg diprediksi akan membawa perubahan signifikan pada gaya bermain The Blues, dengan fokus pada umpan-umpan pendek, penggunaan tiga bek, dan tekanan tinggi di lini depan.
Pergantian Pelatih dan Latar Belakang Rosenior
Keputusan Chelsea untuk berpisah dengan Enzo Maresca membuka jalan bagi Liam Rosenior untuk menduduki kursi manajer. Rosenior, yang dikontrak hingga musim panas 2032, didatangkan dari Strasbourg, klub yang juga dimiliki oleh BlueCo, perusahaan milik Todd Boehly. Di usianya yang baru menginjak 41 tahun, Rosenior memiliki rekam jejak kepelatihan yang terbilang muda, pernah menukangi Derby County dan Hull City di Divisi Championship, serta Strasbourg di Ligue 1. Tekanan di Stamford Bridge tentu akan jauh lebih besar dibandingkan klub-klub sebelumnya.
Formasi dan Fleksibilitas Taktik
Rosenior dikenal dengan pakem 3-4-1-2. Namun, ia memiliki fleksibilitas untuk mengubah formasi tersebut menjadi 4-3-3 atau 4-2-3-1 selama pertandingan berjalan. Gaya bermain dengan tiga bek ini dinilai tidak akan terlalu berbeda jauh dengan yang diterapkan oleh Enzo Maresca. Hal ini terlihat dari peran Reece James dan Malo Gusto, yang meskipun berposisi sebagai bek sayap, kerap beroperasi sebagai gelandang tengah dan bahkan maju hingga kotak penalti lawan untuk menciptakan peluang.
Ciri Khas Permainan: Umpan Pendek dan Pressing Intens
Liam Rosenior sangat menekankan pentingnya umpan-umpan pendek kepada para pemainnya. Statistik dari Strasbourg menunjukkan bahwa tim tersebut termasuk dalam kategori tim dengan persentase umpan panjang terendah di liga Eropa, hanya sekitar 6 persen. Ciri khas lainnya adalah pressing dengan intensitas tinggi. Strasbourg tercatat sebagai salah satu tim terbaik di Ligue 1 dalam hal penguasaan bola dan perebutan bola di sepertiga akhir lapangan. Rosenior memandang pressing sebagai ‘perpanjangan dari serangan’, yang bertujuan untuk menumbuhkan antusiasme dan melakukan perebutan bola cepat. Energi ini diharapkan dapat membangkitkan semangat penggemar setelah periode permainan yang cenderung pasif di bawah kepemimpinan Maresca.






