Berita

Testimoni Orang Tua: Sekolah Rakyat Beri Perubahan Signifikan pada Perkembangan Anak

Advertisement

Medan – Pelataran Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Kota Medan, Sumatera Utara, menjadi saksi pertemuan penuh haru antara orang tua dan anak dalam kunjungan rutin bulanan. Momen ini memberikan kesempatan bagi orang tua atau wali untuk melihat langsung perkembangan anak-anak mereka yang menempuh pendidikan berasrama.

Pasangan Srikatun Suroso (53) dan Gustaria (46), warga Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, turut merasakan kebahagiaan tersebut saat menjenguk putri mereka, Kinanti (13), siswi kelas I SRMP 2 Kota Medan. Kunjungan ini menjadi ajang evaluasi perkembangan anak di lingkungan yang baru.

Perkembangan Positif di Sekolah Rakyat

Suroso mengungkapkan rasa syukurnya atas keberadaan Sekolah Rakyat. “Perkembangannya banyak, kalau enggak ada SR (Sekolah Rakyat) ini kan, enggak bisa sekolah anak kami,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026). Kekhawatiran awal mengenai kondisi sang putri berangsur sirna setelah melihat langsung sistem asrama yang dinilai berjalan baik.

“Di sini termasuk bagus. Dari makanannya, dari kesehatannya, semua dipantau sama wali asrama,” imbuh Suroso. Ia menambahkan bahwa sebelum masuk Sekolah Rakyat, Kinanti tumbuh di lingkungan dengan keterbatasan ekonomi. Kini, perubahan sikap dan kedisiplinan Kinanti terlihat jelas.

“Anak SR itu kebersamaannya ada, kalau lingkungan masing-masing kan ibaratnya, bandelnya saja yang ada. Jadinya masuk SR berguna sekali, disiplin dia, sikap dia berubah semua,” katanya. Suroso juga menyoroti pemenuhan gizi di Sekolah Rakyat yang lebih baik dibandingkan di rumah.

“Kita ini makan ya, asal aja udah rebus bayam, sambel, tempe sudah. Kalau di sini (Sekolah Rakyat) memang (pemenuhan) gizinya bagus, ada ikan, makannya cepat besar, cepat gemuk. Waktu pulang, (Kinanti) naik lima kilo, enggak pernah turun, naik berat badannya,” tambahnya.

Advertisement

Harapan untuk Masa Depan dan Pemutusan Rantai Kemiskinan

Bagi Suroso, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi harapan untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka masa depan yang lebih baik bagi putrinya. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas program tersebut.

“Sekolah Rakyat ini merupakan sekolah untuk orang-orang yang enggak mampu. Ke depannya itu anak-anak jadi bangkit. Umpamanya enggak bisa sekolah, jadi bisa sekolah. Keinginan dia kerja pun ada. Hobi dia, di sini disalurkan. Kalau dia mau cita-cita apa, terjadilah impian-impian anak-anak itu. Terima kasih Pak Prabowo dan Menteri Sosial,” pungkasnya.

Gustaria, yang sehari-hari berjualan sayur keliling dan ikan teri dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Sekolah Rakyat. Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan pendidikan keempat anaknya.

“Jualannya pun enggak terlalu banyak, pas-pasan kami, makanya ini adiknya Kinanti pun masih sekolah, kakaknya juga. Makanya berat kalau enggak ada Sekolah Rakyat. Takut enggak sekolah, karena enggak mampu lah,” ungkap Gustaria.

Keluarga ini menyambut tawaran bersekolah melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial dengan penuh rasa syukur. Seluruh kebutuhan Kinanti kini terpenuhi dengan baik, mulai dari makan, seragam, hingga fasilitas asrama, memberikan kesempatan yang setara untuk meraih cita-cita.

Advertisement